Analisis Kenyamanan Termal Pada Gedung BPJS Kesehatan Cabang Gorontalo
DOI:
https://doi.org/10.57218/juster.v3i2.1069Keywords:
Arsitektur, Hemat energi, Kenyamanan thermal bangunanAbstract
Secara geografis Indonesia berada dalam garis khatulistiwa atau tropis, namun secara thermis (suhu) tidak semua wilayah Indonesia merupakan daerah tropis. Daerah tropis menurut pengukuran suhu adalah daerah tropis dengan suhu rata-rata 20°C, sedangkan rata-rata suhu di wilayah Indonesia umumnya dapat mencapai 35°C dengan tingkat kelembaban yang tinggi, dapat mencapai 85% (iklim tropis panas lembab). Keadaan ini terjadi antara lain akibat posisi Indonesia yang berada pada pertemuan dua iklim ekstrim (akibat posisi antara 2 benua dan 2 samudra), perbandingan luas daratan dan lautannya, dan lain-lain. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi manusia dalam melakukan aktifitasnya sebab produktifitas kerja manusia cenderung menurun atau rendah pada kondisi udara yang tidak nyaman seperti halnya terlalu dingin atau terlalu panas. Suhu nyaman thermal untuk orang Indonesia berada pada rentang suhu 22,8°C - 25,8°C dengan kelembaban 70%. Langkah yang paling mudah untuk mengakomodasi kenyamanan tersebut adalah dengan melakukan pengkondisian secara mekanis (penggunaan AC) di dalam bangunan yang berdampak pada bertambahnya penggunaan energi (listrik). Cara yang paling murah memperoleh kenyamanan thermal adalah secara alamiah melalui pendekatan arsitektur, yaitu merancang bangunan dengan mempertimbangkan orientasi terhadap matahari dan arah angin, pemanfaatan elemen arsitektur dan material bangunan, serta pemanfaatan elemen-elemen landscape.
References
Anthony, S. &. (1979). Theory Criticism and History of Architecture. New york: McGraw-Hill.
ASHRAE. (2001). Handbook Fundamental. ASHRAE, Inc.
Aulia, L. S. (2013). Evaluasi Kenyamanan Termal Ruang Sekolah Sma Negeri Di Kota Padang. Jurnal Optimasi Sistem Industri, 310-316.
Frick, H. (2008). Ilmu Fisika Bangunan. Yogyakarta: Kanisius.
Hari Widiyantoro, E. M. (2017). Analisis Pencahayaan Terhadap Kenyamanan Visual Pada Pengguna Kantor . Jurnal Arsitektur, Bangunan, &Lingkungan, 65-70.
Karyono, T. H. (2010). Kenyamanan Termal dalam Arsitektur Tropis. Research Gate,.
Nugroho, M. (2011). A Preliminary Study of Thermal Environment in Malaysia’s Terraced Houses. Journal and, 25-28.
Satwiko. (2009). Fisika Bangunan. Depok: Andi Publisher.
Satwiko, P. (2004). Solar-Wind Generated Roof Ventilation System (SiVATAS) for a Warm-Humid Climate. International Journal of Ventilation, 209-218.
Sugini. (2014). Kenyamanan termal ruang : konsep dan penerapan pada desain. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Susanti, L. &. (2013). Evaluasi kenyamanan termal ruang sekolah SMA negeri di kota Padang. Jurnal Optimasi Sistem Industri, , 310-316.
Talarosha, B. (2005). Menciptakan Kenyamanan Thermal Dalam Bangunan. Jurnal Sistem Teknik Industri, 148-158.