Faktor Risiko Kejadian Demam Tifoid di Indonesia 2018–2022: Literature Review

Penulis

  • Herdiana Verliani Universitas Singaperbangsa Karawang
  • Indah Laily Hilmi Universitas Singaperbangsa Karawang
  • Salman Salman Universitas Singaperbangsa Karawang

DOI:

https://doi.org/10.57218/jkj.Vol1.Iss2.408

Kata Kunci:

Demam tifoid, Faktor risiko, Personal hygiene, Food hygiene, Sanitasi lingkungan

Abstrak

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi menular, disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica serovar typhi (S.typhi) dan Salmonella enterica serovar enteridis (S.enteridis) yang merupakan bakteri gram negatif dengan karakteristik endotoksin khas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebab kejadian demam tifoid di Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah literature review, dengan mengumpulkan data kejadian demam tifoid di Indonesia kemudian data dianalisis terhadap faktor risiko yang sesuai dengan kriteria pemilihan sampel. Hasil menunjukkan bahwa  beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian demam tifoid diantaranya sarana sumber air bersih, sarana jamban dan pembuangan tinja, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB (Hand Hygiene), kebiasaan mencuci bahan makanan mentah (Food Hygiene), kebiasaan jajan atau makan diluar, riwayat demam tifoid anggota keluarga dan personal hygiene menjadi faktor penting pada risiko kejadian demam tifoid. Kesimpulan faktor-faktor risiko yang menjadi prioritas penyebab demam tifoid perlu kita perhatikan untuk mengurangi kejadian demam tifoid di Indonesia.

Referensi

Afifah, N., & Pawenang, E. (2019). Kejadian Demam Tifoid pada Usia 15-44 Tahun. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 3(2), 263-273.

Alamsyah, D. 2013. Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta: Nuha Medika.

Alba, S., Bakker, M. I., Hatta, M., Scheelbeek, P. F. D., Dwiyanti, R., Usman, R., and Smits, H. L. (2016). Risk Factors of Tifoid Infection in the Indonesian Archipelago. PLoS ONE, 11(6): 1–14.

Andayani, & Fibriana, A. (2018). Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Karangmalang. Higeia Journal of Public Health Research and Development 2(1), 57-68.

Artanti. 2013. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan, Higiene Perorangan, dan Karakteristik Individu dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun 2012. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Brockett S, Wolfe MK, Hamot A, Appiah GD, Mintz ED, Lantagne D. (2020). Associations among water, sanitation, and hygiene, and food exposures and tifoid fever in case-control studies: a systematic review and meta-analysis. Am J Trop Med Hyg, 103, 1020–31.

Crump J. A., Sjölund-K. M., Gordon M. A., Parry C. M. (2015). Epidemiology, clini- cal presentation, laboratory diagnosis, antimicrobial resistance, and antimi- crobial management of invasive Salmonella infections. Clin Microbiol Rev. 28(4):901–37.

Dewi, R. S. (2020). Faktor Risiko Kejadian Demam Typoid di Propinsi Jambi. Jurnal Formil (Forum Ilmiah) KesMas Respati, 5(2), 161-172.

Elon, Y., & Simbolon, U. (2018). Tindakan Kompres Hangat Pada Temporal Lobe Dan Abdomen Terhadap Reaksi Suhu Tubuh Pasien Dengan Tifoid Fever. Jurnal Skolastik Keperawatan, 4(1), 73 – 81.

Erfianto, R., dan Koesyanto, H. 2017. Hygiene Personal pada Penjual Nasi Kucing. HIGEIA, 1(1): 48-51

Gunawan, A., Rahman, I. A., Nurapandi, A., Maulana, N. C. (2022). Hubungan Personal hygiene dengan Kejadian Demam Tifoid Pada Remaja di Wilayah Kerja Puskesmas Imbanagara Kabupaten Ciamis. Healtcare Nursing Journal. 4(2), 404-412.

Lee, H. K., Halim, H. A., Thong, K. L., & Chai, L. C. 2017. Assessment of Food Safety Knowledge, Attitude, Self-Reported Practices, and Microbiological Hand Hygiene of Food Handlers. Environmental Research and Public Health, 14(1): 55.

Maarisit, C. L., Sarimin, S., Babakal, A. (2014). Hubungan Pengetahuan Orang Tua tentang Demam Tifoid dengan Kebiasaan Jajan pada Anak di Wilayah Kerja RSUD Mala Kecamatan Melonguane Kabupaten Kepulauan Talaud. Jurnal Keperawatan. 2(2), 1-7.

Maghfiroh, A. E., Siwiendrayanti, A. (2016). Hubungan Cuci Tangan, Tempat Sampah, Kepemilikan SPAL, Sanitasi Makanan dengan Demam Tifoid. Jurnal Pena Medika, 6(1): 34-45.

Nuruzzaman, H., Syahrul, F. (2016). Analisis Risiko Kejadian Demam Tifoid Berdasarkan Kebersihan Diri dan Kebiasaan Jajan di Rumah. Jurnal Berkala Epidemiologi, 4(1): 74-86.

Nurvina. (2013). Hubungan antara Sanitasi Lingkungan, Hygiene perorangan dan Karakteristik Individu dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang. Skripsi. Semarang: Universitas Negeri Semarang: 34–0.

Paputungan, W. (2016). Hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Upai Kota Mobagu tahun 2015. Jurnal Ilmiah Farmasi, 5(2): 266–275.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor 3 Tahun 2014. Tentang Sanitasi Total Berbasis Masyaraka. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Prehamukti, A. (2018). Faktor Lingkungan dan Perilaku terhadap Kejadian Demam Tifoid. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 2(4), 587-598.

Rahmawati, R. R. (2020). Faktor Risiko Yang Memengaruhi Kejadian Demam Tifoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Binakal Kabupaten Bondowoso. Medical Technology and Public Health Journal, 4(2), 224-237.

Rakhman, A., Humardewayanti, R., dan Pramono, D. (2009). Faktor-faktor Risiko yang Berhubungan terhadap Kejadian Demam Tifoid pada Orang Dewasa. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat, 25(4)

Ramadhani, N. R., Dian, L. and Yuliawati, S. Ramadhani, N. R., Dian, L., & Yuliawati, S. (2016). Kualitas Bakteriologis Berdasarkan Keberadaan Salmonella sp pada Selada (Lactusa sativa).Kesmas Jambi, 1(1): 11-18

Santoso, S., & Ranti, A. L. (2013). Kesehatan dan gizi. Jakarta: Rineka Cipta.

Sharma, P. K., Ramakrishnan, R., Hutin, Y., Manickam, P., & Gupte, M. D., (2009). Risk factors for tifoid in Darjeeling, West Bengal, India: Evidence for practical action. Tropical Medicine and International Health, 14(6): 696–702.

Stanaway J. D., Reiner R. C., Blacker B. F., Goldberg E. M., Khalil I. A., Troeger C. E., Andrews J. R., Bhutta Z. A., Crump J. A., Im J., Marks F. (2019). The global burden of tifoid and paratifoid fevers: a systematic analysis for the global burden of disease study 2017. Lancet Infect Dis, 19, 369-381.

Suraya C, Atikasari A. (2019). Hubungan personal hygiene dan sumber air bersih dengan kejadian demam tifoid pada anak. J ’Aisyiyah Med., 4(3), 327–39.

Susanna, D., & Indrawani, Y. M. (2010). Kontaminasi Bakteri Escherichia coli pada Makanan Pedagang Kaki Lima di Sepanjang Jalan Margonda Depok, Jawa Barat. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 5(3): 110-115.

Sustaningsih, T., Yulianti, R., Simanjuntak, K., Arfiyanti. (2018). PKM Pelatihan Mencuci Tangan Menggunakan Sabun Sebagai Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Untuk Masyarakat Rt 007/Rw 007 Desa Pangkalan Jati, Kecamatan Cinere Kota Depok. Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia. 1(2): 75-84

Trismiyana, E., dan Agung, L.Y.K., (2020). Kebersihan makanan dan hand hygiene sebagai faktor resiko demam tifoid di Bandar Jaya, Lampung. Holistik Jurnal Kesehatan, 14(3), 470-478.

Ulfa, F., & Handayani, O. (2018). Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Pagiyanten. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 2(2), 227-238.

Welong, S. S., Ratag, B. T., Bernadus, J. (2017). Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Tifoid pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Advent Manado Tahun 2016. Public Health Journal, 6(3): 1-11.

WHO. (2018). Weekly Epidemiological Record, 93(13), Tifoid vaccines: WHO position paper [Internet]. [cited 2022 Oktober 24]. Available from: https://www.who.int/publications-detail-redirect/tifoid-vaccines-whoposition-paper-march-2018.

Zelvyani. (2014). Personal hygiene Pada Tifoid. Skripsi. Tersedia pada:<https://digilib.unimus.ac.id/ id.

Unduhan

Diterbitkan

2022-12-20