https://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/issue/feedJUSTER : Jurnal Sains dan Terapan2026-05-29T16:02:26+07:00Nikman Azmin, M.Sibiologinikman@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>JUSTER: Jurnal Sains dan Terapan</strong> memiliki e-ISSN: <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220104581042737" target="_blank" rel="noopener">2809-7750</a> dan p-ISSN:<a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220104111158419" target="_blank" rel="noopener"> 2809-7661</a>, menerbitkan hasil penelitian atau hasil karya ilmiah lainnya di bidang sains dan terapan. <strong>JUSTER </strong>menerima artikel yang sesuai dengan ketentuan maupun <em><a href="https://docs.google.com/document/d/1v3TDUY1gNF7pGX-UFW5ux3aXmxUEwqEy/edit?tab=t.0" target="_blank" rel="noopener">template</a></em> yang sudah disediakan oleh pengelola. <strong>JUSTER</strong> adalah jurnal <em>open access </em>dibawah naungan Yayasan J<em>ompa Research and Development</em>. <strong>JUSTER: Jurnal Sains dan Terapan</strong> <a href="https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/journals/profile/14765">Terakreditasi SINTA 5,</a> sesuai SK Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek Nomor: 10/C/C3/DT.05.00/2025. Terbit tiap bulan Maret, Juni, September dan Desember. <a href="https://ojs.delta.edu.sd/">toto</a></p>https://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/article/view/2841Hubungan Status Merokok dengan Karboksihemoglobin Darah Menggunakan Metode Ammonium Hidroksida2026-05-11T12:39:31+07:00Ibnu Muhariawan Restuajiibnu.muhariawan@iik.ac.idAlfatiana Nur Rahmawatialfatiananurrahmawati@gmail.com<p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify;"><span style="font-size: 11.0pt;">Merokok merupakan salah satu faktor risiko gangguan kesehatan karena asap rokok mengandung berbagai zat toksik, termasuk karbon monoksida (CO). CO memiliki afinitas tinggi terhadap hemoglobin sehingga membentuk karboksihemoglobin (COHb) yang dapat menghambat transport oksigen (O<sub>2</sub>) dalam darah. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan antara status individu sebagai perokok aktif maupun non-perokok dengan keberadaan COHb. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 20 responden yang terdiri atas 10 perokok aktif dan 10 non-perokok. Pemeriksaan COHb dilakukan secara kualitatif menggunakan ammonium hidroksida (NH<sub>4</sub>OH). Analisis hubungan antarvariabel dilakukan dengan menggunakan uji Chi-square dan Fisher’s Exact yang diolah melalui aplikasi jamovi. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh responden perokok aktif (100%) positif mengandung COHb, sedangkan pada kelompok non-perokok terdapat 4 responden (40%) dengan hasil positif dan 6 responden (60%) dengan hasil negatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa status merokok memiliki hubungan yang signifikan dengan keberadaan COHb, ditunjukkan oleh nilai signifikansi uji Chi-square (p = 0,003) dan Fisher’s Exact (p = 0,011). Dengan demikian, terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan keberadaan karbon monoksida dalam darah.</span></p>2026-05-26T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JUSTER : Jurnal Sains dan Terapanhttps://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/article/view/2838Analisis Salinitas Air Sumur sebagai Indikator Intrusi Air Laut di Pesisir Karst Gunungkidul2026-05-11T12:37:29+07:00Tsaqifa Dina Kamilacappuchinolatt3@gmail.comUchsin ‘Usyaqi ‘AthiyyauchsinuUsyaqiAthiyya@gmail.comToni Rahmantotonirahmanto@gmail.com<p>Wilayah karst pesisir Gunungkidul memiliki karakteristik akuifer unik dengan porositas dan permeabilitas tinggi, menjadikannya rentan terhadap intrusi air laut. Studi ini menganalisis salinitas air tanah sebagai indikator intrusi air laut di akuifer karst pesisir sekitar Pantai Sundak dan Sadranan, Kecamatan Tepus. Menggunakan pendekatan deskriptif-analitis kuantitatif, sampel air tanah diambil dari 14 sumur penduduk dengan jarak yang bervariasi dari garis pantai. Parameter yang diukur meliputi salinitas, <em>Total Dissolved Solids</em> (TDS), <em>Electrical Conductivity</em> (EC), pH, dan suhu. Hasil pengukuran salinitas di 14 sumur warga menunjukkan nilai rata-rata salinitas sebesar 0,797 ppt dan TDS 797,43 mg/L. Hasil analisis mrnunjukkan sebesar 86% (12 sumur) tergolong tidak terintrusi, sementara masing-masing 7% (1 sumur) menunjukkan indikasi intrusi ringan dan 7% terindikasi intrusi sedang. Menariknya, tingkat salinitas tidak selalu berbanding lurus dengan jarak dari garis pantai; beberapa sumur di daratan yang lebih dalam menunjukkan salinitas yang lebih tinggi daripada sumur yang lebih dekat ke pantai. Fenomena ini didorong oleh karakteristik heterogen dari akuifer karst dan aktivitas pemompaan lokal yang memengaruhi keseimbangan hidrostatik. Temuan ini memberikan landasan awal bagi pemantauan dan pengelolaan air tanah pesisir yang berkelanjutan di wilayah tersebut.</p>2026-05-26T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JUSTER : Jurnal Sains dan Terapanhttps://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/article/view/2794Keanekaragaman Serangga pada Tanaman Aren (Arenga pinnata) di Habitat Hutan Sekunder dan Lahan Pertanian2026-04-24T15:33:32+07:00Siti Hardianti Wahyunisitihardiantiwahyuni10@gmail.comMeiliana Friskameilianafriska@gmail.comSurya Handayanisuryahandayani@gmail.comJumaria Nasutionjumarianasution@gmail.comCindy Febriany Batubaracindyfebrianybatubara@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan mengkaji distribusi dan kelimpahan serangga yang berasosiasi dengan tanaman aren (Arenga pinnata) pada habitat lahan pertanian dan hutan sekunder di Desa Ulumamis, Kabupaten Tapanuli Selatan. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei lapangan dengan teknik purposive sampling pada empat pohon aren produktif. Pengambilan data selama tujuh hari menggunakan perangkap feromon dan light trap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total serangga yang tertangkap sebanyak 738 individu yang tergolong dalam tujuh ordo, dengan Hymenoptera dan Coleoptera sebagai kelompok dominan. Keanekaragaman serangga pada hutan sekunder (H’ = 2,31) lebih tinggi dibandingkan lahan pertanian (H’ = 1,97), sedangkan indeks kemiripan komunitas sebesar 0,56 menunjukkan tingkat kesamaan sedang. Hasil ini mengindikasikan bahwa struktur vegetasi dan aktivitas manusia memengaruhi komunitas serangga, serta menegaskan pentingnya hutan sekunder dalam mendukung konservasi serangga fungsional dan keberlanjutan agroekosistem.</p>2026-05-31T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JUSTER : Jurnal Sains dan Terapanhttps://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/article/view/2766Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Rendaman Kulit Bawang Merah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Pakcoy (Brassica rapa L.)2026-04-07T17:26:44+07:00Rizki Syahputrarizkisyahputra@gmail.comParmanoan Harahapparmanoanharahap@gmail.comMeiliana Friskamelianafriska90@gmail.com<p>Pakcoy (<em>Brassica rapa</em>) merupakan salah satu jenis sayuran daun yang banyak dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomi tinggi serta kandungan gizi yang bermanfaat, seperti vitamin A, C, dan mineral esensial. Kulit bawang merah, limbah organik kaya hormon tumbuh (auksin, giberelin, sitokinin) dan nutrisi (N, P, K, flavonoid), berpotensi sebagai pupuk ramah lingkungan untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara pada bulan Maret sampai Mei 2025. Penelitian ini bertujuan mengetahui respon pertumbuhan dan produksi pakcoy terhadap aplikasi rendaman kulit bawang merah. Metode dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 5 ulangan dan 5 perlakuan jenis aplikasi rendaman kulit bawang merah: P0 (kontrol) P1 (150 gram kulit bawang merah/ 500 ml air), P2 (300 gram kulit bawang merah/ 500 ml air), P3 (450 gram kulit bawang merah/ 500 ml air) dan P4 (600 gram kulit bawang merah/ 500 ml air), Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi rendaman bawang merah pada tanaman pakcoy tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun, dan lebar daun, namun berpengaruh nyata pada berat segar. Perlakuan terbaik terdapat pada P4.</p>2026-05-31T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JUSTER : Jurnal Sains dan Terapanhttps://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/article/view/2849Respon Tanaman Padi Hitam Cempo Ireng Aplikasi Pupuk Organik pada Fase Generatif2026-05-12T13:39:07+07:00Jumaria Nasutionjumarianasution1@gmail.comSurya Handayanisuryahandayani@gmail.comMeiliana Friskameilianafriska@gmail.comSiti Hardianti Wahyunisitihardiantiwahyuni10@gmail.com<p>Cempo Ireng merupakan varietas padi hitam lokal unggulan yang kaya akan antosianin dan antioksidan, namun sering terkendala oleh rendahnya prouksi serta siklus hidup yang panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas berbagai dosis pupuk organik dalam meningkatkan respon fase generatif pada padi Cempo Ireng pada. Penelitian ini dilakukan di Desa Pintupadang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas empat taraf perlakuan: K0 (kontrol), K1 (100 g), K2 (200 g), dan K3 (300 g) per tanaman perlakuan dengan tiga ulangan. Parameter yang diukur meliputi umur berbunga, panjang malai, dan berat gabah 100 butir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik berpengaruh nyata terhadap seluruh Pmempercepat fase generatif hasil tanaman perlakuan K3 300 g tanaman memberikan respons terbaik pada umur berbunga, umur panen, panjang malai, dan berat gabah 100 butir dibandingkan perlakuan lainnya. Pada penelitian ini menunjukkan bahwa pupuk organik berpotensi meningkatkan efisiensi pemanfaatan hara dan mendukung pertumbuhan dan fase generative pada padi hitam cempo ireng lebih optimal. Oleh karena itu, aplikasi pupuk organik dapat direkomendasikan sebagai salah satu strategi budidaya untuk meningkatkan produksi padi hitam Cempo Ireng secara berkelanjutan.</p>2026-05-31T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JUSTER : Jurnal Sains dan Terapanhttps://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/article/view/2928Pengaruh Teknik dan Frekuensi Irigasi terhadap Water Footprint, Pertumbuhan, dan Hasil Tumpangsari Jagung dengan Kacang Tanah di Lahan Kering2026-05-29T16:02:26+07:00I Ketut Ngawitngawit@unram.ac.idAnjar Pranggawan Azharipranggawan@unram.ac.idAmrul Jihadiamrul-jihadi@unram.ac.id<p>Masalah yang sering dijumpai pada pengelolaan lahan kering adalah keterbatasan air irigasi. Meskipun tersedia sistem irigasi air tanah, tetapi teknologi ini masih membutuhkan energi listrik atau kurang ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis water footprint pada budidaya tumpangsari jagung dengan kacang tanah dengan menerapkan teknik irigasi konvensional, sprinkler dan bawah permukaan dengan prinsip irigasi evapotranspiratif menggunakan berbagai skenario tingkat frekuensi irigasi sehingga diperoleh teknik irigasi terunggul dengan pemberia volume air yang optimal. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dua faktor perlakuan yaitu teknik irigasi yang terdiri atas 3 taraf, yaitu irigasi permukaan, overhead sprinkler dan bawah permukaan. Sedangkan faktor yang kedua tingkat frekuensi irigasi yang terdiri atas 5 taraf frekuensi penyiraman, yaitu: setiap 5, 10, 15, 20 dan 25 hari sekali. Irigasi bawah permukaan dengan frekuensi 10 hari menghasilkan kebutuhan air tertinggi (180,36 l m⁻²), hasil setara gabah tertinggi (2,98 kg m⁻²), dan water footprint 0,65 m³ kg⁻¹. Dibanding irigasi manual frekuensi 25 hari (hasil terendah 1,06 kg m⁻²), terjadi peningkatan hasil 182% (BNJ 0,05 = 0,1162). Irigasi sprinkler 10 hari memberikan hasil 2,91 kg m⁻² dengan water footprint 0,61 m³ kg⁻¹. Nilai water footprint antar perlakuan berbeda signifikan (BNJ 0,05 = 0,0323). Irigasi bawah permukaan dan sprinkler dengan frekuensi 5–10 hari (irigasi evapotranspiratif) secara signifikan meningkatkan evapotranspirasi aktual, efisiensi air, serta pertumbuhan dan hasil tanaman. Teknik irigasi sprinkler dan bawah permukaan dengan volume frekuensi penyiraman setiap 10 hari sekali direkomendasikan untuk tumpangsari jagung-kacang tanah di lahan kering karena memberikan produktivitas tertinggi, meskipun water footprint cenderung lebih tinggi.</p>2026-06-05T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JUSTER : Jurnal Sains dan Terapanhttps://jurnal.jomparnd.com/index.php/js/article/view/2914Analisis Beban Kerja dan Kebutuhan Tenaga Kerja Divisi Logistik Industri Manufaktur dengan Metode Full Time Equivalent2026-05-25T18:52:01+07:00Chatarina Dian Indrawatichdian.indrawati@ukmws.ac.idTheresia Liris Windyaningrumtheresialiris@gmail.comPetrus Setya Murdapapetrus.setya@ukwms.ac.idWahyu Prabawati Putri Handayaniputri.handayani@ukwms.ac.id<p>Peningkatan volume pemesanan dan kompleksitas aktivitas logistik berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan beban kerja pada Divisi Logistik PT XYZ. Kondisi tersebut dapat berdampak pada keterlambatan penyelesaian pekerjaan, meningkatnya lembur, dan menurunnya kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis beban kerja dan menentukan kebutuhan tenaga kerja optimal menggunakan <em>Workload Analysis</em> (WLA) dengan pendekatan <em>Full Time Equivalent</em> (FTE). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap 15 karyawan Divisi Logistik. Data waktu siklus diolah menjadi waktu normal dan waktu baku dengan mempertimbangkan <em>performance rating</em> dan <em>allowance</em> sebesar 7%. Selanjutnya dilakukan perhitungan beban kerja dan nilai FTE untuk setiap karyawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh karyawan memiliki nilai FTE di atas 1,00 yang mengindikasikan kondisi <em>overload</em>. Nilai FTE tertinggi terdapat pada staf pengadaan jasa dan investasi sebesar 2,65, diikuti staf gudang sebesar 2,43 dan staf logistik sebesar 1,92. Tingginya beban kerja terutama ditemukan pada aktivitas pengadaan dan pengelolaan gudang. Meskipun demikian, kebutuhan tenaga kerja tidak sepenuhnya mengikuti hasil pembulatan nilai FTE karena masih terdapat peluang redistribusi pekerjaan dan pengoptimalan aktivitas administratif. Berdasarkan hasil evaluasi, kebutuhan tenaga kerja optimal direkomendasikan bertambah 4 orang, terdiri atas 1 orang pada bagian logistik, 1 orang pada bagian ekspedisi dan gudang, serta 2 orang pada bagian pengadaan.</p>2026-06-05T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 JUSTER : Jurnal Sains dan Terapan